Tujuan Bisnis ala Pesantren Sintesa yang Mengantarkan ke Surga

Apa sih bisnis itu? Apa bedanya bisnis sama jualan? Sebelumnya saya mau jelasin terlebih dahulu mindset bisnis yang dipelajari di Sintesa.

Bisnis adalah sebuah usaha yang dapat ditinggal atau bahasa kerennya para IM’ers “set and forget”. Jadi, jika sebuah usaha yang masih belum bisa ditinggal, setiap harinya harus selalu dikerjakan maka belum bisa dikategorikan sebuah bisnis.

Bukan berarti bisnis tidak perlu perawatan atau peninjauan lebih lanjut, justru bisnis memiliki masalah yang jauh lebih kompleks.

Oleh karena itu dalam berbisnis harus membangun sistem yang kokoh agar semuanya dapat berjalan lancar sesuai prosedur. Solusinya ialah dengan membangun sebuah sistem yang dinamakan SOP (Standard Operational Procedure).

Santri yang sedang menyiapkan takjil untuk berbuka puasa

Tidak berhenti disitu, kategori usaha yang dibisa dikatan bisnis adalah skalanya bisa terus diperbesar dan dikembangkan lebih banyak lagi produksi serta target pemasaranya.

Namun, maksud dan tujuan Sintesa mendirikan pesantren bisnis ini bukan hanya semata untuk membangun segi finansialnya saja tetapi juga dalam beragama, dan sosial yang nantinya dapat bermanfaat bagi masyarakat.

Berikut dibawah ini tujuan Berbisnis ala Pesantren Sintesa yang akan dijelaskan secara ringkas

Memiliki Income

Salah satu Santri yang bisnisnya udah jalan, lumayan udah bisa buat beli cilok

Sudah jelas tujuan membangun bisnis adalah untuk menghasilkan pundi-pundi uang. Namun di Sintesa tujuan tersebut sedikit berbeda dengan mindset para pebisnis lainnya, karena sebelum para santri terjuan dimasyarakat langsung mereka harus kuat secara finansial.

Jadi nantinya pada saat bersosial dilapangan benar-benar tulus membantu masyarakat tanpa perlu memikirkan feedback apa yang mereka dapatkan. Bahkan dapat berkontribusi tidak hanya tenaga dan fikiranya saja namun juga finansialnya.

Fokus Beribadah

Saking khusyuknya dzikir sampe ketiduran

Setelah point 1 terpenuhi maka tidak perlu lagi memikirkan finansialnya. Intinya kebutuhan perut dulu dipenuhin, jika urusan perut sudah terpenuhi jadi bisa fokus ibadah tanpa perlu memikirkan besok mau makan apa.

Ringan Beramal

Senyum adalah ibadah

Materi sudah terpenuhi dan bisa fokus ibadah, lalu apalagi? sepertinya belum lengkap jika belum melakukan satu ibadah yang tidak kalah penting, bahkan dikategorikan sebagai kewajiban, yaitu beramal.

Baik beramal dengan materi yang dimiliki ataupun beramal dengan ilmu bisnis dan ilmu agamanya. Dengan demikian, suatu saat nanti santri lulusan Sintesa akan sangat bermanfaat bagi masyarakat.

Ladang Berdakwah

Kultum yang dibawakan salah seorang Santri asal Lamongan

Jauh sebelum Sintesa dibangun, Ustad Vatih yang merupakan salah satu seorang foundernya, tujuan beliau menciptakan pesantren ini ingin membentuk mental anak-anak muda yang memiliki pengaruh dan manfaat di masyarakat, minimalnya di daerah mereka masing-masing.

Oleh karena itu di Sintesa para santrinya tidak hanya diajarkan bagaimana cara mencari uang dalam berbisnis namun juga ilmu-ilmu agama yang nantinya akan disampaikan kepada masyarakat.

Salah satu bentuk pembelajaran berdakwah di Sintesa ialah dengan adanya materinya publik speaking. Setiap pagi setelah subuh para santri menghafal Al-quran lalu dilanjutkan dengan tausyiah singkat bergiliran minimal 7 menit didepan santri lainnya.

Tidak perlu membawakan materi-materi berat, cukup dengan materi sederhana yang nantinya mudah dicerna dan dimengerti oleh masyarakat awam. Hal tersebut dilakukan karena memang target dakwah yang ditujukan kepada masyarakat menengah kebawah.

Mengantarkan ke Surga

Salah satu kelompok di Angkatan 3, mereka dikenal dengan sebutan “Kelompok HASAN”

Jika keempat point diatas diterapkan dengan cara benar dan tulus Insya Allah akan mengantarkan ke surga karena hampir semua aspek ibadah yang di syariatkan telah terpenuhi.

Tantangannya sekarang ialah bagaimana hal tersebut dapat diterapkan oleh kita semua agar dapat menjadi manfaat tidak hanya bagi diri sendiri namun juga bagi masyarakat seluas-luasnya, minimal masyarakat dimana lingkungan kita tinggal.

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.