Sepenggal Kisah Pencarian Jatidiri di Pesantren Sintesa

Lebih ganteng setelah masuk pesantren :p

Saat itu merupakan hari spesial yang selalu dinanti oleh setiap mahasiswa. Hari wisuda dimana toga dan pakaian kebesaran dikenakan. Orangtua datang dan tersenyum haru melihat putra putrinya telah resmi menjadi sarjana.

Teknik Informatika adalah jurusan terpandang yang baru beken beberapa dekade kebelakang. Ini tak lepas dari meningkatnya penggunaan komputer diberbagai sektor. Harapannya para sarjana dari jurusan Teknik Informatika menjadi pribadi – pribadi tangguh yang dapat memanfaatkan komputer sesuai dengan kebutuhan.

Kebutuhan seperti apa? Mayoritas sih mendefinisikannya sebagai kemampuan untuk membuat program sesuai permintaan. Gampangnya saya di didik untuk menjadi seorang programmer.

Lucunya pelajaran yang saya dapatkan 90%nya berupa teori teori dan teori. Bobot praktek sangat – sangat sedikit ditambah lagi tidak fokus pada bahasa pemrograman tertentu. Sehingga pada akhirnya banyak lulusan dari jurusan teknik informatika tempat saya kuliah yang tidak bisa membuat program.

Banyak dari kami yang pada akhirnya hanya memiliki selembar ijazah tanpa skill IT yang mumpuni. Teman – teman yang berhasil dibidang ini mendapat ilmunya dari tempat lain. Beberapa orang ikut kursus komputer sementara yang lainnya belajar secara otodidak.

Melihat fenomena ini maka muncul pertanyaan di benak saya,

kalau pinternya dari tempat lain, buat apa kami bayar SPP setiap semester dan hadir disetiap pelajaran?

Mahasiswa dituntut untuk berpikir kritis, dan itulah salah satu kritikan tajam yang saya lontarkan pada sistem belajar di kampus.

Pada masa – masa itu saya dirundung kegalauan yang teramat sangat. Apa yang harus saya kuasai sebagai mahasiswa Teknik Informatika?. Pertanyaan itu terus terngiang di telinga selama masa kuliah berlangsung. Seharusnya pertanyaan semacam itu tidak ada jika kampus mendidik mahasiswanya dengan baik dan benar.

Perkenalan Dengan Para Dracula Dunia Maya

gambar hanya ilustrasi, aslinya mah lebih parah :p

Sudah sejak SMA dahulu saya gemar berjualan barang lewat internet, baik bentuk fisik ataupun digital. Saya ingat ketika pertama kali berjualan online saya mendapat untung sekitar 800rb – 1jt rupiah sebulannya. Padahal waktu itu uang jajan saya hanya 100rb/minggu atau 400rb/bulan.

Kebiasaan berjualan ini sempat berhenti selama tahun – tahun awal kuliah dan mulai aktif lagi sekitar tahun ke 3 kuliah. Berjualan online sangat membantu kehidupan saya di masa kuliah. Mulai dari sekedar untuk beli bensin sampai dapat membayar biaya semesteran.

Pada saat itu yang saya ketahui berjualan online hanyalah lewat FJB dan Marketplace. Tidak pernah terpikir sebelumnya untuk menjual produk yang laris berdasarkan riset kata kunci.

Walaupun berjualan lewat internet, pada prakteknya metode yang saya gunakan masih konvensional. Saya mengira produk apa yang laris, lalu menemui supplier dan memborong barang dagangan.

Penerimaan pesanan dilakukan dari pagi sampe menjelang malam. Sementara pengiriman saya lakukan pada malam hari selepas mengajar di kampus. Kegiatan itu berlangsung cukup lama selama kurang lebih 1 – 2 tahun.

Disela sibuknya mengajar sambil berjualan, saya juga bergabung dengan grup – grup pengusaha lewat media whats’app. Saat itulah saya belajar kalau ternyata jualan lewat internet tidak sekedar posting barang dagangan di fjb dan marketplace saja.

Uniknya ilmu berjualan online ini tidak didapat di bangku pendidikan formal manapun. Akhirnya saya belajar otodidak sambil mengikuti berbagai macam kursus online maupun offline.

Saya pernah ikut workshop seharga 3.5jt rupiah untuk belajar facebook ads selama 2 hari di hotel berbintang yang terletak di Jakarta. Sayangnya rupiah yang saya keluarkan berbanding terbalik dengan manfaat yang saya rasakan. Begitu sulitnya perjuangan untuk mempelajari ilmu internet marketing di antara runcingnya taring para mastah. Tak terhitung berapa banyak newbie seperti saya yang darahnya habis tersedot tak bersisa.

Beberapa waktu sebelumnya saya juga pernah mendengar pengakuan langsung dari seorang ‘jago’ SEO yang mematok tarif privat seharga Rp.25.000.000,-. Menurut pengakuannya, ia menjual privat tersebut kepada para pengusaha senior yang awam dunia online. Parahnya lagi, 25jt itu hanya untuk level basic, sedangkan untuk level selanjutnya diperlukan biaya yang tidak kalah besarnya.

Terbayang betapa kerasnya dunia Internet Marketing? Pemain baru seperti saya ini merupakan mangsa empuk bagi para mastah dengan berbagai macam produk digital dan kursus/workshop yang mereka tawarkan.

Tak salah kalau akhirnya saya berpendapat

Memasuki dunia Internet Marketing tanpa persiapan bagaikan seorang perawan yang menginap pada kastil Dracula

Membuang Kepastian Demi Sesuatu yang Tak Pasti

Secara akademik saya bukanlah mahasiswa yang bodoh. Walaupun hanya mempelajari teori, nilai akademik saya tetaplah di atas rata – rata. Di kampus tempat saya mencari ijazah, hanya mereka yang nilainya tinggi sajalah yang mendapat kehormatan untuk lulus lewat jalur skripsi.

Sedangkan sisanya harus membuat proposal jika ingin mengambil skripsi atau cukup puas dengan jalur non skripsi. Dari sekitar 50 anak dalam 1 kelas hanya segelintir yang mendapatkan surat keterangan skripsi termasuk saya. Seingat saya tidak sampai 5 orang yang mendapat SK Skripsi.

Selain itu saya juga mengajar di kampus sebagai seorang asisten. Membimbing proyek dan menyidang para mahasiswa pun pernah saya lakukan. Ketika lulus saya juga mendapatkan tawaran beasiswa S2 dari kampus.

Beberapa kawan saya sesama asisten memilih menjadi dosen sambil mengambil gelar S2 sementara sisanya memilih bekerja di perusahaan. Bagi seorang asisten menjadi dosen setelah lulus itu sama seperti seorang atlit yang menjadi pelatih setelah pensiun. Saya tidak bilang kalau hal itu mudah, hanya saja jalurnya memang sudah tersedia.

Selepas lulus dari bangku kuliah saya juga sibuk mencari pekerjaan seperti sarjana kebanyakan, dari sekian banyak lamaran yang disebar, saya fix diterima di 2 perusahaan. Hanya saja hal itu bertepatan dengan dibukanya penerimaan santri angkatan 3 Pesantren Sintesa.

Pada akhirnya saya harus memilih, jadi dosen sambil lanjut S2, kerja kantoran seperti kebanyakan sarjana atau menjadi santri dari sebuah pesantren bisnis online yang baru 1 tahun berdiri?.

Pertanyaan sesungguhnya adalah: lebih baik memilih sesuatu yang jelas hasil akhirnya dan hidup seperti kebanyakan orang atau mengejar sesuatu yang hasilnya masih abu – abu?.

Teringat kata murabbi saya beberapa waktu lalu, “umur 25 sudah lampu kuning, kalian ingin dikenal sebagai apa?”. Kurang lebih itulah kata beliau yang mengisyaratkan agar kami para mutarabbinya segera memilih passion dan jalur karir yang ingin ditempuh.

Pesantren Sintesa, Tempat Harapan Bertemu Kenyataan

pencitraan :p

Saya termasuk orang yang sering berpositif thinking. Pada tahun awal kuliah saya belajar hal – hal yang sebenarnya sudah dipelajari sewaktu sekolah, seperti fisika dan kimia ditambah beberapa pelajaran lainnya. Tahun awal saya belajar dengan giat karena yakin sekaranglah saatnya serius setelah menghabiskan masa SMA dengan berjualan dan bermain game.

Keseriusan saya dengan belajar dapat dibuktikan dari IPK tahun pertama saya yang angkanya cukup fantastis. Tahun pertama juga merupakan tahun penentuan, karena hanya mahasiswa/i terpilih saja yang dapat masuk kelas ungulan. Dari kelas unggulan itulah nantinya akan diseleksi siapa saja yang dapat langsung S2 hanya dengan 4 – 5 tahun kuliah.

Singkatnya, mahasiswa/i terpilih dapat menyelesaikan jenjang S2 dalam waktu kuliah S1 atau selama 4 – 5 tahun. Tidak hanya itu, kami juga berkesempatan berkuliah di luar negeri sehingga mendapat title S2 double. Total 3 title dapat tersemat pada nama kami, yaitu S1 indonesia, S2 indonesia dan S2 luar negeri.

Saya yakin, kalau bukan karena pacaran, saya pasti dapat masuk kelas unggulan untuk diseleksi ke tahap selanjutnya.

Kekecewaan saya bukanlah karena tidak masuk kelas unggulan, tetapi karena setelah tahun ke 2 3 dan 4 saya sama sekali tidak menemukan hal berguna yang dipelajari di bangku perkuliahan.

Inilah yang akhirnya membulatkan tekad saya untuk masuk Sintesa, karena saya yakin akan mendapat ilmu yang benar – benar berguna.

Alhamdulillahnya semua yang saya harapkan menjadi kenyataan. Tidak ada 1 detikpun yang terbuang sia – sia di Pesantren Sintesa ini. Ini merupakan 1 tahun terbaik dalam hidup saya. Setiap pelajaran yang diajarkan sangat – sangat berguna bagi kehidupan dunia dan akhirat.

Di Pesantren Sintesa ini saya belajar bagaimana cara membangun bisnis online berbasiskan SEO. Bisnis yang dikerjakan juga harus sesuai dengan Syari’at islam. Ada batas atau aturan tertentu yang tidak boleh dilanggar. Tidak hanya itu, saya juga belajar banyak hal berkaitan dengan bisnis seperti: cara melobi supplier, cara mengorek informasi dari kompetitor, etika dalam berbisnis, cara mencari partner bisnis, personal branding, potensi bisnis lokal, membagi penghasilan, hal – hal yang harus dihindari dalam berbisnis dan masih banyak hal lainnya.

Tentunya materi – materi SEO seperti: membangun website SEO Friendly, mencari hosting terbaik untuk SEO, menggunakan Theme SEO, riset keyword, riset kompetitor, membuat artikel, optimasi onpage dan offpage sudah pasti diajarkan.

Selain itu saya juga belajar banyak pelajaran tentang kehidupan, seperti: Ruqyah Syar’i, pernikahan, parenting, berbakti pada orangtua, food combining dll.

Hasil Menimba Ilmu Kanuragan Selama 1 Tahun

Google Analytic
Profitnya sekitar 30 %. Alhamdulillah.
Statistic dari WordPress.com

Tidak terasa sudah 1 tahun lamanya saya bertapa dan bersemedi di Pesantren Sintesa. Selama itupula saya mendapatkan bisikan – bisikan positif. Lilin yang selama ini saya jaga juga sudah membuahkan hasil, rekening yang tadinya kosong sudah mulai terisi.

Website yang saya bangun selama 1 tahun ini memiliki traffic cukup besar ditambah dengan hasil dari berjualan online yang sekiranya cukup untuk hidup.

Beberapa keyword jualan saya sudah nangkring di halaman 1 dengan leads rutin setiap harinya. Alhamdulillah semuanya terjadi atas izin Allah SWT dengan melalui perantara hambaNya yaitu para ustadz yang mengajar dan membimbing dengan ikhlas di Pesantren ini.

Leave a Comment